Selasa, 08 Maret 2016

Christian Adrianto

Hasil gambar untuk Christian Adrianto
[5 Maret 2016]
Christian Adrianto merupakan salah satu tokoh motivator terkenal dan terbaik yang ada di Indonesia. Beliau bahkan telah sering diundang untuk mengisi ratusan seminar yang ada di berbagai perusahaan. Perannya di kancah motivator juga mampu mengubah hidup banyak orang dan mampu meningkatkan penjualan di berbagai perusahaan. Namun di balik kesuksesannya, Christian memiliki kisah yang akan membuat orang menjadi terinspirasi olehnya.
Christian Adrianto lahir di Jakarta pada tanggal 23 Mei 1982 dan merupakan anak kedua dari 4 bersaudara. Kisah ini berawal ketika SMP, rumahnya harus dijual karena suatu hal. Hal ini lantas membuat Christian dan keluarganya tidak memiliki tempat tinggal. Kemudian mereka menumpang tinggal bersama sanak saudaranya selama belasan tahun lamanya. Lalu pada tahun 2008, beliau pun pernah tinggal di kos-kosan satu kamar dengan temannya agar lebih ringan dalam membayar harga kamar kos.
Di bulan Juli 2008 beliau diajak oleh kakaknya untuk mengikuti seminar dari Tung Desem Waringin. Dari seminar itu, Christian Adrianto memiliki suatu tekad dan keinginan yang besar untuk mengubah nasibnya menjadi lebih kaya, sukses, dan bahagia. Kemudian beliau melihat bahwa banyak sekali testimoni dari peserta seminar yang telah berubah hidupnya baik secara mental, sikap, dan perubahan financial.
Selain itu, beliau juga sangat terpesona melihat sosok Tung Desem Waringin yang mampu menginspirasi banyak orang. Dari situlah Christian Adrianto mengambil keputusan untuk menjadi trainer dan motivator. Keputusan untuk menjadi trainer dan motivator benar-benar di niati oleh beliau.
Beliau kemudian mengikuti seminar Train for Firewalk Trainer dari Tung Desem Waringin yang berlangsung di pulau Bali dengan uang pinjaman. Setelah selesai mengikuti seminar dan melalui perjuangan yang panjang, Christian Andrianto akhirnya berhasil menjadi Trainer Tung Desem Waringin mempraktekan seminar Work With The Best. Dari situ Tung Desem Waringin yang menjadi guru besarnya bahkan juga menjadi partner Christian Adrianto dan mendapatkan penghasilan yang diperoleh selama 18 bulan bekerja dalam satu kali seminar saja.

Saat ini Christian Adrianto telah sering mengisi berbagai seminar seperti Financial Revolution. Beliau bahkan berbicara dengan ribuan peserta dan satu panggung dengan pembicara-pembicara kelas dunia. Nah dari kisah Christian Adrianto ini kita dapat belajar jika kesuksesan dapat diraih oleh siapa saja yang ingin berusaha keras untuk meraihnya.

[Sumber: http://motivatorindonesia.net/biografi-christian-adrianto-kisah-dibalik-kesuksesan-motivator-christian-adrianto.html ]

Gede Prama

Hasil gambar untuk Gede Prama
[4 Maret 2016]
Banyak orang beranggapan bahwa jalan menuju kesuksesan tidaklah mudah. Namun tidak demikian bagi Gede Prama. Menurut penulis sekaligus mantan CEO perusahaan besar itu, keberhasilan seseorang bersumber dari keyakinannya dalam menjalani hidup. Prinsip ini pula yang terus dipegangnya hingga berhasil membawanya pada puncak kesuksesan. Alhasil, di usianya yang baru 38 tahun, Gede Prama telah menduduki jabatan tertinggi dalam sebuah perusahaan dengan memimpin ribuan karyawan.
Pria kelahiran 2 Maret 1963 ini berasal dari sebuah desa kecil bernama Tajun yang terletak 
di Bali Utara. Ia tumbuh dalam keluarga yang sederhana. Sejak kecil ia merupakan sosok yang patuh akan hukum adat yang berlaku di lingkungannya. Jiwa pemberontak jauh dari kepribadiannya. Ini terlihat ketika orangtuanya sering mengumpulkan anak-anaknya untuk diberikan wejangan, Gede Prama selalu mendengarkan wejangan yang disampaikan orangtuanya dengan baik untuk diterapkannya di kemudian hari.
Gede Prama memulai kariernya di lahan pengetahuan dan profesi yang sarat sains dan praktik manajemen. Namun dalam kiprah selanjutnya, ia lebih menerapkan pendekatan spiritual dalam pengembangan organisasi maupun bisnis.

Hanya dengan bermodalkan keyakinan serta tekad yang kuat, alumni Universitas Leicester dan INSEAD ini datang ke kota besar. Keyakinannya membuahkan hasil, kini ia dikenal sebagai penulis sekaligus pimpinan sebuah perusahaan swasta dan konsultan pada Dynamics Consulting yang bergerak di bidang pengembangan SDM. Gede Prama juga menjadi salah seorang pembicara publik yang paling diminati. Kata-kata yang keluar selalu dipikirkan masak-masak dan meneduhkan bagi yang mendengarnya.

Ketekunannya sebagai konsultan membuatnya pernah menjadi konsultan manajemen di RCTI, Blue Bird, PT Kodja Bahari, Air Mancur dan lain-lain. Tak hanya itu, mantan karyawan sebuah perusahaan Jepang ini juga berhasil mencatatkan namanya sebagai salah satu motivator kenamaan Tanah Air sekelas Mario Teguh, Tung Desem Waringin dan lain-lain.

Berkat kesuksesannya, Gede kini hidup berkecukupan dengan kekayaaan yang dimilikinya. Namun, kekayaan duniawi bukanlah menjadi sumber kebahagiannya yang utama, melainkan cinta kasih dari keluarga tercinta yang senantiasa tercurah untuknya. Selain keyakinan dan tekad, cinta kasih merupakan faktor yang amat mempengaruhi jalan hidupnya. Ia tidak lagi menemui kegagalan karena dalam kegagalan tak ada dalam kamus bahasa cinta.

Dalam kamus hidup seorang Gede Prama, seseorang bisa mewujudkan keyakinan tanpa harus dibatasi oleh tembok apapun. Maka ketika seseorang benar-benar ingin berpikir sehat demi kesuksesannya, ia harus bersiap-siap berpikir keseluruhan tanpa batas. Tak mengherankan jika kini ia tak suka mengagumi pemikiran mana pun secara berlebihan.

Gede Prama mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan gagasan Unschooled Management. Gagasan yang menurut Gede, sebuah ekspresi penghargaan atas sekolah. Pasalnya, seseorang yang berani mengkritiklah yang akan membangun sebuah sekolah dan universitas.

Berkat keluasan pemikirannya, pria berpembawaan tenang ini banyak dipercaya sebagai pembicara publik di berbagai forum nasional maupun internasional. Sudah tidak terhitung banyaknya undangan mulai dari organisasi keagamaan, perusahaan, maupun seminar tentang motivasi diri dan
bisnis. Perusahaan-perusahaan besar seperti BCA, Citibank, World Bank, Unilever Global, Microsoft dan IBM tak segan menggelontorkan dana yang tak sedikit demi mendatangkan dirinya. Kesibukan yang memaksanya harus melanglang buana
Karena kedalaman berpikirnya, pria yang memperoleh gelar MBA dari Institut Manajemen Prasetiya Mulya Jakarta ini disebut sebagai Resi Manajemen oleh Infobank. Sedangkan oleh Media Indonesia, Gede dijuluki Stephen Covey Indonesia. Warta Ekonomi menyebutnya Penggagas Unschooled Management.

Julukan yang disandangnya tak lantas membuat Gede terjebak dalam puji-pujian itu. Bagi Gede, pujian maupun makian sama mematikannya. Yang terpenting, ia selalu belajar untuk merangkul dua sisi kehidupan yang saling membelakangi, sedih-bahagia, suka-duka dalam satu pelukan yang sama mesra.

Gede juga merupakan sosok pembicara publik yang bisa berbicara lintas agama, terkadang ia berbicara di majelis taklim, vihara, serta berbagai seminar pengembangan diri lewat jalur spiritual.

Ia juga terus belajar untuk mencapai pada titik keikhlasan tertinggi. Jadi, apa pun usahanya, ia belajar supaya tetap berujung pada keikhlasan. Dengan keikhlasan, orang tak akan terbelenggu pada keinginan akan harta maupun tahta.

Pemahaman inilah yang membuat seorang kyai dari Jawa Timur menyebut Gede seorang sufi. Padahal Gede seorang Hindu. Kesufian ini dipelajari Gede Prama dari para pemikir dunia seperti Kahlil Gibran, Khrisnamurti, David Bohm, Michael Fouclt, dan Morihei Ueshiba. Selain mempelajari karya-karya filosofi, ia juga rutin berlatih meditasi. Dari latihan ini, ia mendapatkan ketenangan yang memudahkannya mengembangkan pikiran positif dalam segala hal.

Selain menjadi pembicara publik, ia juga menuangkan gagasan serta pemikirannya dalam lembaran-lembaran kertas. Ketekunannya berkarya membuatnya sudah menghasilkan ribuan artikel, serta puluhan judul buku, dua di antaranya dibuat dalam versi bahasa Inggris.

Buku-buku yang ditulisnya tak pernah lepas dari pemahaman tentang kehidupan yang universal, seperti: Percaya Cinta Percaya Keajaiban, Hidup Bahagia Selamanya, Sukses dan Sukses, Simfoni di Dalam Diri, Sadness, Happiness, Blissfulness: Transforming Suffering Into The Ultimate Healing : Mengolah Kemarahan Menjadi Keteduhan, dan lain-lain. Pesan-pesan serta petuah bijak yang disampaikannya membuat buku-buku Gede Prama kerap dijadikan bahan renungan bagi para penikmat karyanya. Media cetak, internet, televisi dan radio juga kerap menyebarkan pesan-pesan serta petuah bijaknya yang mengajarkan bagaimana cara menjalani hidup dengan nilai-nilai positif. Di sela-sela kesibukannya sebagai pembicara, Gede Prama juga menjadi penulis tetap di harian Kompas serta majalah Info Bank.

Setelah mendapatkan segala kesuksesan di dunia, ia ingin terus melakukan perjalanan menuju Tuhan. Ia tak ingin terus terikat pada tahta. Ia juga tak ingin terjebak pada keberhasilan. Karena ikatan dan jebakan itulah awal dari kegagalan hidup yang permanen. Gede Prama menyadari kehidupan di dunia hanya bersifat sementara, oleh karena itu ia berusaha menyebarkan pemikiran positif bagi sesamanya tentang keindahan hidup dengan karya-karyanya.

Kendati kesibukan telah membawanya ke berbagai tempat, Gede Prama tak pernah melupakan tempat kelahirannya, Tajun. Di desa inilah ia menghabiskan sebagian waktu menulis, bertaman, serta bermeditasi (mindfulness training). Keberhasilan dan kenikmatan hidup tak lantas merubah kepribadian Gede, hatinya pun masih tetap sama dengan ketika ia memulai perjalanan dari Tajun. "Semua mau bahagia, tidak ada yang mau menderita," begitulah ungkapan pria yang pernah belajar spiritualitas dari Dalai Lama.

Meski masih belum sempurna, Gede Prama yang sering menyebut dirinya sebagai orang bodoh ini memberanikan diri untuk berbagi pesan tentang tidak menyakiti, banyak menyayangi, mencintai semua mahluk, karena menurutnya itulah yang membuat manusia berbahagia. Kegagalan dan kebodohan di masa lalu dijadikannya sebagai media untuk terus belajar dan dari sana pulalah Gede Prama menemukan sebuah kearifan. "Dalam setiap persoalan manusia, saya belajar untuk mengurangi mencari siapa yang salah. Dan memusatkan perhatian untuk memecahkan persoalan," ujarnya bijak.

Bila banyak orang mau belajar berhenti menyalahkan orang lain, kemudian memusatkan perhatian pada pemecahan persoalan, menurutnya dunia kerja bukanlah sesuatu yang menakutkan. Persoalannya, untuk bisa berhenti dari kebiasaan buruk tadi, di samping kadang kurang didukung lingkungan, juga sering dihadapkan oleh dorongan-dorongan dari dalam diri yang juga tidak mudah. Emosi, ego, harga diri, gengsi, ketidaksabaran hanyalah sebagian kecil dari dorongan-dorongan tadi. Namun, siapapun juga orangnya, menurut Gede, orang itu membutuhkan deep meditation untuk mengelola dorongan-dorongan tersebut.

Deep meditation menurutnya, sebenarnya amatlah mudah. Ketika lapar, makanlah secukupnya. Tatkala haus, minumlah semampunya. Manakala mata mengantuk, tidurlah secukupnya. Dengan kata lain, hidup kita dengan seluruh kesehariannya sebenarnya sebuah meditasi panjang. Bila kita melakukan meditasi panjang ini dengan penuh ketekunan, kita yang menjadi pengelola tubuh dan jiwa ini. Bukan sebaliknya, kita dikelola oleh tubuh.

Terlebih bagi mereka yang pekerjaannya merubah orang lain atau memiliki tugas mulia memasyarakatkan nilai-nilai luhur. Dia katakan, sulit membayangkan tugas-tugas ini bisa diselesaikan secara berhasil tanpa melalui deep meditation. Ini juga sebabnya kenapa bertemu orang-orang tertentu kita mudah segan, hormat, respek, dan perasaan sejenis.


James Gwee

james gwee - seminar jakarta indonesia 2011
[3 Maret 2016]
James Gwee dikenal sebagai salah satu pembicara top di Indonesia, meskipun ia lahir dan besar di Singapura. Seminar-seminarnya mampu memotivasi peserta yang hadir sekaligus meningkatkan performa mereka di bidangnya masing-masing.


"...Mr. James Gwee dapat membantu saya meningkatkan motivasi Jual bagi wiraniaga saya
", kata salah seorang peserta seminar.

Lalu bagaimana James Gwee bisa menjadi pembicara favorit di Indonesia, padahal ia berkewarganegaraan Singapura?

James sebenarnya baru datang ke Indonesia pada tahun 1990.

Pada awalnya, James Gwee sebenarnya lulus dengan gelar di bidang IT di Singapura. Setelah itu, ia mendirikan sebuah sekolah / tempat kursus komputer bersama teman-temannya.

Dari sekolah inilah sebenarnya kemampuan public speaking-nya mulai berkembang. Selain mengikuti sebuah workshop tentang bagaimana berbicara di depan publik, hal yang berkontribusi banyak dalam kemampuan berbicaranya adalah ketika ia harus mengunjungi sekolah-sekolah untuk melakuk333an presentasi atau demo untuk sekolah komputernya.

Sekolah tersebut cukup sukses, sehingga membuatnya membuat sebuah franchise (waralaba) dan salah satu franchisee yang pertama ada di Indonesia. Nah, karena James satu-satunya orang yang bisa berbicara sedikit bahasa Melayu maka ia memutuskan untuk datang ke Indonesia agar bisa mengurus masalah franchisee tersebut.

Sesampainya di Indonesia, James melihat bahwa negara kita ini adalah suatu tempat yang menarik dan penuh dengan peluang. Jadi ia memutuskan untuk tinggal agak lama di Indonesia untuk mencari tahu lebih banyak tentang negara ini.

Akhirnya, ia menjual saham sekolah komputernya dan memutuskan untuk tinggal di Indonesia. Ia kemudian mulai menawarkan konsultasi dan membuat workshop tentang customer service dan semacamnya.

Keputusannya untuk menjual saham itu tentu adalah sebuah risiko. Sudah hidup enak, tapi mau melepas apa yang ia miliki untuk memulai dari awal.

Di Indonesia, pada awalnya James memang hanya menawarkan konsultasi untuk karyawan saja tapi kemudian ia memperluasnya dengan membuka workshop untuk publik.

Workshopnya yang pertama tidak langsung sukses, malah hanya dihadiri oleh 15-20 orang saja karena di awal tahun 90an seminar dan workshop semacam itu belum begitu populer. Karena itu, James Gwee menjadi salah satu pionir untuk seminar / workshop sejenis.

Seiring waktu berlalu, tak heran James mendapat gelar “Indonesia’s Favorite Trainer” karena ia selalu menyampaikan tips-tips yang praktis dan mudah dipahami di setiap seminarnya. Selain itu, gaya bahasanya yang ‘campuran’ antara Indonesia dan Inggris, serta penyampaiannya yang humoris dan penuh energi pun mampu memotivasi dan memikat masyarakat Indonesia.
Selain di Indonesia, James bahkan telah melakukan seminar di perusahaan dan organisasi di berbagai negara seperti berbicara untuk 800 direktur top di India, memotivasi 1200 agen asuransi di Afrika Selatan, juga negara lain seperti Rusia dan Ukraina.

Melalui Seminarnya, James Gwee dan lembaga yang dimpimpinnya (Academia Education & Training) juga telah berhasil meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tanggal 24 November 2009 sebagai pemrakarsa dan pembicara seminar umum yang tematik dengan variasi terbanyak, 8 variasi tematik dalam waktu 1 tahun.


Selain seminar, James Gwee juga telah menulis buku dan membuat program CD audio dan video tentang penjualan, kesuksesan bisnis, bagaimana menjadi manajer dan supervisor sukses, dan juga manajemen waktu.

[Sumber : http://www.justelsa.com/2010/10/profil-james-gwee-bagaimana-seminarnya.html]

Rabu, 02 Maret 2016

Chris Gardner



[ 2 Maret 2016]
Dulu hidupnya amat miskin, ia seorang gelandangan yang kini menjadi seorang Milyarder. Chris Gardner Lahir di Milwaukee, Winconsin pada 9 Februari 1954, dengan nama lengkap Christopher Gardner kehidupannya dimulai dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Dia satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya, yang diasuh oleh orangtua tunggal, yaitu ibunya. Ibunya yang bekerja sebagai guru dan juga mengambil berbagai pekerjaan sambilan masih saja tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Ayah, adalah pribadi yang tidak pernah ia kecap dan itu sangat mempengaruhi kehidupannya. Dalam pertumbuhannya, Gardner berpindah dari rumah saudara ke rumah panti asuhan. Hingga Gadner memasuki sekolah militer, Gadner baru tahu bahwa tempat terburuk di dunia ini adalah rumah dimana ia tinggal bersama ibunya dan ayah tirinya. Penyiksaan yang diterimannya dari ayah tirinya ternyata lebih kejam dari pada disiplin militer Amerika Serikat.
Setelah putus sekolah tinggi, Gardner berbohong tentang usia dan bergabung dengan US Navy. Ia berharap untuk menjadi seorang tenaga medis dan bisa keliling dunia, tetapi itu tidak pernah dicapainya. Ia hanya sampai di North Carolina. Namun, pengalaman itu memperkenalkan Gardner ke ahli bedah jantung, yang kemudian mempekerjakan Gardner sebagai asisten penelitian klinis di University of California Medical Centre di San Francisco. Gardner menikmati pekerjaan, tetapi ia hanya memiliki penghasilan $ 7,400 per tahun dan ia ingin lebih.
Titik Balik Kehidupan Chris Gardner
Gardner bermain-main dengan gagasan untuk menjadi seorang dokter, tapi ia memutuskan bahwa tahun-tahun melunasi pinjaman untuk sekolah medis bukanlah untuk dia. Sebaliknya, ia menjadi penjual alat medis, dengan penghasilan $ 16.000 per tahun. Dia memuat peralatan ke mobilnya pada suatu hari dan sesuatu terjadi yang akhirnya mengubah kehidupan Gardner untuk selamanya. Ia melihat Ferrari merah terang dan langsung jatuh cinta pada semua yang diwakilinya. “Saya bertanya kepada pria pemilik Ferrari itu dua pertanyaan,” kenang Gardner. “Salah satunya, ‘Apa yang Anda lakukan?’ Yang kedua adalah,’ Bagaimana Anda melakukan itu? ‘”
Seperti sudah ditakdirkan, pengemudi Ferrari adalah seorang pialang saham. Ketika Gardner mendengar bahwa orang itu berpenghasilan lebih dari $ 80.000 sebulan, ia memutuskan bahwa menjadi pialang saham adalah masa depannya. Dia tidak punya pendidikan, tidak ada pengalaman, dan tidak ada koneksi, tapi itu tidak menghentikan Gardner dari mencapai mimpi barunya. Ia kemudian mencoba untuk mengikuti pelatihan menjadi pialang saham yang diadakan oleh perusahaan pialang saham bernama Dean Witter. Meskipun tidak mendapatkan bayaran dari pelatihan tersebut, Chris Gardner berusaha keras dalam pelatihan tersebut. Ia mencoba mencari pelanggan yang mau menanamkan modalnya di perusahaan tempatnya ia latihan.

Selama mengikuti pelatihan pialang saham di Dean Witter, banyak cobaan yang dilalui
oleh Chris Gardner, seperti ditinggal pergi oleh istrinya yang tidak tahan dengan kondisi Chris Gardner sehingga Chris harus mengasuh anaknya sendiri, selain itu, tunggakan pajak yang tidak bisa dibayar oleh Chris Gradner sehingga uang tabungannya disita oleh pihak IRS, mobil satu-satunya milik Chris Gradner juga disita karena tak bisa membayar uang parkir dan ia juga diusir keluar apartemennya karena menunggak pembayaran. Saking miskinnya ketika itu, ia bahkan tinggal di Toilet bersama anaknya karena tak punya uang untuk menyewa tempat tinggal yang layak dan memperoleh makanan melalui bantuan pemerintah ketika itu.

Namun seperti kata orang kesuksesan hanya ada bagi mereka yang terus berusaha, Kerja keras Chris Gardner dalam melakukan penjualan di perusahan Dean Witter membuahkan hasil, dari 19 orang yag mengikuti pelatihan, ia satu-satunya orang yang terpilih untuk bekerja sebagai pialang saham di perusahaan Dean Witter tersebut. Kemudian sekitar tahun 1983, Chris Gardner kemudian bergabung dengan Bear, Stearns & Company, ia berhasil menjadi marketing terbaik dengan penjualan tertinggi di San Fransisco dan New York hingga kemudian ia memilih berhenti dari perusahaan tersebut.

Kemudian pada tahun 1987, Chris Gardner mendirikan perusahaan pialang, Gardner Rich & Co, di Chicago, Illinois, sebuah perusahaan pialang yang mengkhususkan diri dalam pelaksanaan utang, ekuitas dan transaksi produk-produk derivatif untuk beberapa lembaga terbesar negara, pensiun publik dan serikat pekerja .” Perusahaan baru itu dimulai nya di apartemen kecil Presidential Towers, dengan modal awal sebesar $ 10.000 dan perabot: meja kayu yang berfungsi sebagai meja makan keluarga. Gardner dilaporkan memiliki 75 persen dari perusahaan pialang saham dengan sisanya dimiliki oleh perusahaan hedge fund. Dia memilih nama “Gardner Rich” untuk perusahaannya karena ia menganggap Marc Rich, pedagang komoditi yang diampuni oleh mantan presiden Bill Clinton pada tahun 2001, “sebagai salah satu perusahaan berjangka yang paling sukses di dunia.”

Setelah Gardner menjual sahamnya di Gardner, dalam kesepakatan jutaan dolar pada 2006, ia menjadi CEO dan pendiri dari Christopher Gardner International Holdings, dengan kantor di New York, Chicago, dan San Francisco. Selama kunjungannya ke Afrika Selatan untuk mengamati pemilu saat Peringatan 10 tahun berakhirnya apartheid, Gardner bertemu dengan Nelson Mandela untuk membicarakan kemungkinan investasi di Afrika Selatan dan pasar-pasar baru seperti ditunjukkan dalam otobiografinya pada 2006. Gardner dilaporkan mengembangkan usaha investasi dengan Afrika Selatan yang akan menciptakan ratusan pekerjaan bagi jutaan orang. Gardner menolak mengungkapkan rincian proyeknya sambil mengutip undang-undang sekuritas.

Pahit manisnya kehidupan tampaknya sudah dirasakan olehnya. Kehilangan tempat tinggal, ditinggal istri, ditangkap polisi, kesulitan membayar kredit, semuanya sudah dirasakan. Dia bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi, tapi dia terus berusaha dan berjuang. Kini dia menjadi seorang milyuner sukses, motivator, entrepeneur dan filantropis. Sekarang dia mempunyai Gardner Rich & Co, sebuah perusahaan pialang saham.


Cerita yang mengagumkan dari perjuangan Chris Gardner, kepercayaan, jiwa kewirausahaan dan devosi seorang ayah telah melontarkan ia jauh dari kemasyuran yang ia temukan di Wall Street (tempat bursa efek seperti BEJ). Dia telah di wawancarai di acara “Evening News with Dan Rather,” “20/20,” “Oprah,” “Today Show,” “The View,” “Entertainment Tonight,” CNN, CNBC, Fox News Channel dan juga menjadi subjek berita sebagai profil di banyak surat kabar dan majalah termasuk People, USA Today, Associated Press, New York Times, Fortune, Jet, Reader’s Digest, Trader Monthly, Chicago Tribune, San Francisco Chronicle, The New York Post dan the Milwaukee Journal Sentinel. Dia juga menjadi pembicara yang sering dicari.

Kesimpulan dari kisah hidupnya bahwa Tujuan raksasa menghasilkan energi raksasa, selalulah ingat bahwa Tuhan Maha Adil dan Bijaksana, Yakinlah impian dan kesuksesan diawali dari kerja keras dan kegagalan.

Selasa, 01 Maret 2016

Stephen R Covey

Hasil gambar untuk Stephen R Covey
[1 Maret 2016]
Stephen R Covey dilahirkan pada tahun 1932. Dia tinggal bersama istrinya, Sandra, dan keluarga mereka di Utah, di Pegunungan Rocky. Covey mendapatkan pengakuan internasional, dan mungkin paling dikenal, untuk membantu diri sendiri bukunya The 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif. yang pertama kali diterbitkan oleh Simon & Schuster pada tahun 1989 dan telah menjual sekitar 12 juta eksemplar kata-lebar.
Covey memiliki gelar MBA dari Harvard dan telah menghabiskan sebagian besar karirnya di Universitas Brigham Young, di mana dia profesor perilaku organisasi dan manajemen bisnis. Selain gelar MBA, ia juga memiliki gelar doktor yang ia selesaikan sementara pada Universitas Brigham Young. Dr Stephen R Covey telah menerima Medali Fakultas Thomas More untuk layanan terus kemanusiaan dan memiliki tambahan telah diberikan empat gelar doktor kehormatan.
Stephen juga merupakan co-pendiri Franklin Covey-organisasi, yang mengkhususkan diri dalam penerapan prinsip-pendekatan yang berpusat Covey kepemimpinan dan manajemen. Ia secara luas diakui sebagai salah satu otoritas terkemuka di dunia tentang masalah manajemen waktu. Ribuan organisasi di seluruh dunia, termasuk banyak perusahaan Fortune 500, telah mengadopsi teknik inovatif tentang kepemimpinan, kerja tim, dan berfokus pada pelanggan layanan. Nya yang terbaik-menjual buku tentang manajemen waktu, First Things First, co-ditulis dengan A. Roger Merrill R. & Rebecca, menurut Simon & Schuster adalah yang terbaik-menjual buku yang pernah manajemen waktu.
Tujuh prinsip ia menyajikan dalam 7 Kebiasaan tidak pikiran asli - ia tidak mengklaim berasal ide-ide, tetapi hanya untuk menemukan kerangka kerja dan bahasa untuk mengartikulasikan waktu kurang prinsip tertanam ke tujuh kebiasaan. The 7 kebiasaan yang dapat ditemukan, katanya, dalam semua agama besar dunia. Ia percaya prinsip itu sendiri menjadi 'jelas', yaitu, 'Anda tidak bisa berdebat terhadap mereka'. Pandangannya adalah bahwa semua orang yang sangat efektif, dan organisasi enduringly efektif, telah memanfaatkan 7 kebiasaan, untuk sebagian besar atau lebih kecil, untuk mempertahankan keberhasilan mereka.

Covey mengatakan bahwa 7 kebiasaan adalah 'pengetahuan umum' namun, ia menambahkan, tidak selalu 'praktek umum'. Bahkan, dapat dikatakan bahwa kebiasaan benar-benar bertentangan dengan sifat dasar manusia. Secara alami, kita adalah makhluk reaktif dan kita cenderung untuk bertindak terutama luar kepentingan diri sendiri. Tapi kita juga sebagai manusia mampu pikiran dan tindakan jauh lebih tinggi dan bekerja keras untuk menginternalisasikan 7 kebiasaan kita mampu mengembangkan sikap proaktif. Dengan demikian, kita dapat mengambil alih nasib kita sendiri dan kita mampu mengerahkan pengaruh pada orang lain untuk kebaikan kolektif.

[Sumber ; http://kembalil.blogspot.co.id/2011/09/biografi-dr-stephen-r-covey.html ]